Assalamualaikum..
Hai Semua.. Pie kabare?
Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama KKP. Saat ini, saya sedang mengikuti KKP (Kuliah Kerja Profesi) Fakultas Pertanian, setelah diundi saya kedapetan di kabupaten Tegal. Tegal sangat terkenal dengan warung dan istilah “inyong”nya. Saya sendiri tidak ada bayangan seperti apa desa saya nanti ketika tahu saya akan stay di Tegal selama 2 bulan. Saya adalah tipe orang yang suka membayangkan lebih dahulu seperti apa tempat yang akan saya kunjungi, kemanapun itu, untuk mengukur apakah imajinasi saya mirip dengan realita. Lokasi spesifik desa saya tepatnya berada di daerah pegunungan, tepatnya di Gunung Slamet. Di KKP, saya tidak sendiri, saya tergabung dalam satu kelompok.. teman2 kelompok saya berjumlah 6 orang termasuk saya sendiri. Ada Yusufa, gadis Magetan dengan jurusan Agronomi, Amin, laki-laki Pekalongan yang super duper wangi dengan jurusan Agronomi, Yeni gadis Madura yang logatnya lebih mirip batak dengan jurusan Proteksi Tanaman, Alice, gadis blasteran Jawa-Cina dengan jurusan Proteksi Tanaman, Ridho, lelaki asal Minang dengan jurusan Ilmu Tanah, dan terakhir adalah saya sendiri, gadis Bogor dengan orangtua bukan dari Bogor dengan jurusan Arsitektur Lanskap. =)
Dan..
Desa itu bernama Desa Rembul..
Cukup unik memang namanya.. ada “bul”nya.. hehe
Ketika saya sampai disini, desanya agak sedikit mirip dengan yang saya bayangkan.. masih banyak rumah2 kayu, dengan view pedesaan yang sangat indah, dan banyak banget tanaman-tanamannya.. Untuk mencapai desa Rembul dari kota, saya disuguhkan oleh lanskap pedesaan yang indaahhh banget. Saya yakin desa ini punya potensi besar untuk jadi ekowisata plus agrowisata.. udaranya yang khas pegunungan membuat saya nyaman berada disini.
Saya tinggal di rumah pak lurah desa Rembul, Pak Nurkholis namanya. Beliau memiliki 1 istri dan 5 anak. Anak yang pertama sudah menikah dan tidak tinggal di rumah pak lurah. Anak keduanya perempuan namanya sama dengan saya, Annisa. Namun ia biasa dipanggil Icha. Dia sedang menuntut ilmu keperawatan di salah satu institusi akademi di Tegal. Anak ketiganya laki-laki bernama Adip, dia baru masuk SMP kelas 1. Anaknya ramah dan suka main EcoMonopoly.. hehe *promosi. Trus anak keempatnya laki-laki bernama Kiki, anak ini cukup konyol dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Anak kelima atau si bungsu itu perempuan imut bernama Yasmin. Dia sangat lincah dan ngegemesin. Umurnya masih 3,5 tahun tapi ngomongnya udah lancar.
Saya sudah berada di desa ini tepat 2 minggu hingga detik ini, Alhamdulilah saya cukup betah, meski biaya bulanan disini cukup tinggi untuk ukuran desa. Jika dibanding dengan teman2 KKP di tempat lain, biaya saya selama KKP disini (makan, listrik, dll) adalah biaya tertinggi, Rp. 20.000 per hari. Awalnya sedikit mikir sih,, tapi akhirnya diikhlaskan aja, toh mama saya juga ikhlas.. hehe. Untuk makanan, alhamdulilah saya makan tergolong uenak. Mungkin bayangannya makan di desa bakal sekedar tahu, tempe, dan sebangsanya.. tapi jangan salah,, memang saya makan tahu tempe, tapi diiringi juga dengan lauk pauk yang menggiurkan seperti cumi, telur puyuh, ikan, telor, ayam, sate, dll. Enak bukan?
Memang benar kata senior saya, kalo pulang dr Tegal, pasti jadi gemuk.. hehe.
Untuk air, alhamdulilah air di rumah pak lurah sangat bersih soalnya pake PAM. Malah lebih bersih dari air di rumah saya. Hehe.
Untuk tidur, kamar yang disediakan ada 2, dibagi untuk laki-laki dan prempuan. Karena perempuan ada empat, jadi 1 kamar untuk berempat.. untungnya pas.. hehe.
Selama dua minggu, saya sudah menjalankan beberapa program. Dari kelompok saya, saya punya program pembuatan taman pekarangan di sekolah dan pendidikan cinta pertanian. Sedangkan dari saya pribadi, saya punya program sosialisasi pendidikan pertanian, lingkungan, dan pedesaan kepada anak-anak desa dengan EcoMonopoly. Program saya dedikasikan untuk implementasi finalis Bayer Young Environmental Envoy. Saya harap program saya ini bukan hanya untuk memenuhi persyaratan semata namun bisa memberi banyak manfaat untuk anak-anak desa.
1 minggu pertama di desa Rembul, saya gunakan untuk survey desa, ketemu2 dengan pemuka desa.. masih warming up.. setelah itu saya gunakan untuk implementasi masing2 program secara bertahap. Sampai saat ini, Program Taman pekarangan sedang dijalankan, maish dalam tahap penanaman. Konsep tamannya ialah taman obat sekaligus memenuhi fungsi sosial. Sedangkan program pribadi saya, alhamdulilah sudah melakukan pre-test, simulasi permainan, operasi semut (mengumpulkan sampah), jalan-jalan ke sawah selama 1 minggu, dan pertemuan terakhir ialah pemberian post-test.
Saya sekelompok juga punya kegiatan tambahan tiap malam, yaitu mengajar bahasa inggris untuk anak-anak. Jadi siapa aja yang mau ikut, boleh datang ke rumah pak lurah setelah magrib. Kami mengajar bahasa inggris seminggu tiga kali. Saya mengajarkan mereka vocabulary seputar pedesaan, percakapan sederhana, dan menyanyi lagu bahasa inggris. Saya pun membuat jargon (seruan) agar anak2 lebih semangat ketika belajar. Jika saya bilang “hey You!”, maka mereka harus jawab “What’s up!”.. mereka seneng banget kalo diajak teriak2 kaya gitu, hehe. Waktu awal2, mereka masih lupa2 inget buat neriakin jargon itu. Pas saya bilang sacara tiba2, “Hey You!!”, mereka kadang narik napas buka mulut tapi lupa mau jawab apa.. hahaha. Lucu banget liat muka2 polos anak2.. hehe. Ada pengalaman lucu, saya ngajarin mereka jika saya nanya “Siapa yang mau jago bahasa inggris?” maka mereka harus jawab “Me!” alias Saya!. Trus saya uji coba ke mereka trus mereka jawab serentak “Me!!” habis itu saya ulang yang kedua kalinya, dan ketika anak-anak serentak jawab “Me!”, ternyata ada anak laki-laki teriak sendirian, “Inyong!!”.. langsung deh jadi bahan ledekan temen2nya.. hehe. Semua program sangat menyenangkan karena berkecimpung dengan anak-anak ^^
Anak-anak Desa Rembul
Hidup di desa ga selamanya membosankan, asal kita bisa ngemas kegiatan kita, Insya Allah KKP itu bisa jadi hal yang seru dan ga terlupakan!

