Catatan pribadi General Lecture Dr. Beben Benyamin, alumni of IPB, Indonesian scientist who works in University of Queensland Australia
Topic: Genetics and Disease
Awalnya saya sudah membayangkan bahwa saya akan dibuat pusing mendengarkan topik ini, maklum.. saya tidak menekuni bidang genetik dan terakhir kali belajar ttg genetik itu di kelas Biologi (itu pun dapat nilai C, hehe).
Setelah mendengarkan kuliah umum dr pak Beben di Universitas Trilogi, beliau menerangkan hasil riset yang dengan bahasa yang lebih membumi (not too scientifically), sehingga saya cukup tertarik mendengarkan presentasi beliau. Diawali dengan berita heboh Angelina Jolie di majalah TIMES, lalu mengenalkan figur-figur dunia yg memajukan dunia sains baik genetik maupun statistika. Kemudian masuk ke hasil-hasil riset yang ia angkat mengenai kajian genetik dan penyakit.
Kondisi yang terjadi saat ini adalah banyaknya pasien yang diberi obat yg sama dari dokter, padahal setiap pasien memiliki karakter dan gen yang berbeda, sehingga apabila diberikan obat yang sama, efek yang terjadi akan berbeda-beda pula. Melalui tes DNA, kondisi ini bisa diperbaiki dengan membaca karakter dari masing-masing pasien.
Kesimpulan yg saya tangkap dari presentasi beliau adalah penyakit seseorang berasal dari dua faktor, bawaan (genetik) dan lingkungan. Dua faktor ini memiliki dengan persentase yg sama, 50-50. Faktor dari genetik merupakan turunan dr ortu, sedangkan lingkungan misalnya makanan, pergaulan, dll. Sama halnya juga dengan keberhasilan seseorang yang faktornya 50-50, kepintaran warisan orang tua, juga lingkungan berupa usaha, ketekunan, dll. Sehingga, Tidak ada istilah org miskin akan selamanya miskin, tidak juga bodoh akan selamanya bodoh.
Intinya, dengan riset, semua bisa di model kan dan dibuatkan prediksi untuk mengatasi masalah yang ada saat ini dan masa yang akan datang. Sebaik baiknya riset utamanya adalah yang bermanfaat bagi manusia.
Saya cukup tertegun dengan presentasi beliau.
Terlepas dari kepintaran beliau dengan risetnya , ada satu poin penting yg saya petik dari beliau adalah bagaimana beliau bisa menangkis sesuatu yg tidak mungkin menjadi mungkin dalam cerita hidupnya.
Dr Beben adalah lulusan dari sekolah madrasah di Tasikmalaya, lalu menempuh s1 di IPB, mulai memiliki interest di ilmu statistik saat mengikuti kuliah metode statistik dr Prof. Asep, yang pada waktu itu ia mengaku kurang mengerti dengan apa yang dipelajari nya, kemudian Prof. Asep meyakinkan dia bahwa dia pasti bisa.
selain itu, dia sempat bercerita bahwa dulu dia tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, bahkan bbrp dosen ragu dengan kemampuan bahasa Inggris nya, namun tidak menyerah sampai situ, beliau justrujustruu melanjutkan s2 dan s3 ke Australia dan Inggris, negara yg notabene penduduknya berbahasa Inggris sebagai mother language. Ternyata, tidak hanya mencari ilmu saja di luar negeri , setelah lulus beliau malah diangkat menjadi head scientist di Brain Institute, University of Queensland, Australia. Tentunya pencapaian itu pasti didapat dari proses belajar yang penuh dengan ketekunan dan perjuangan, bukan dari cara yang instan.
Saat ini, Beliau sudah menjadi ahli dalam ilmu statistika. Hasil risetnya sudah diliput oleh media internasional seperti Forbes dan the Guardian.
I was wondering if he quit to learn and judge himself, he won’t be able to speak English and understand Statistics for a lifetime, and I don’t think he could be a brilliant scientist like today.
Kesimpulannya, usaha dan kemauan yang keras akan menepis semua kekurangan dalam diri kita dan bisa meraih kesuksesan. sesuai pepatah lama, nothing is possible. By eagerness to learn and hardwork, We can be anything we want to be in the future.
Selesai acara, saya memberikan buku Student Traveler sebagai hadiah kecil untuk anaknya pak Beben, siapa tau buku ini bisa membawa saya terbang ke Australia suatu saat nanti, who knows right? 🙂
@annisaa_potter
