My First ‘Unexpected’ Umrah

Di momen lebaran haji ini, foto-foto Mekkah dan Ka’bah sudah berseliweran di timeline Instagram. Ah, saya jadi kangen. Tiba-tiba saya jadi ingin berbagi pengalaman Umroh saya satu tahun silam. Umroh tak disangka-sangka, dan saya sendiri masih heran bagaimana saya bisa mendapatkannya.

IMG_20161119_070129

Ka’bah

Sebelum itu, saya sebenarnya gatel banget untuk nulis soal First Travel. Meski saya bukan orang yang berhak men-judge tersangka pasutri itu. Tapi, saya geram sekali mendengar berita kalau First Travel yang telah menipu 30,000 jamaah yang mengambil uang mereka dengan nilai total lebih dari 500 milliar. Orang-orang inilah yang patut saya sebut sebagai penista agama yang sesungguhnya. Dan, Berita kasus First Travel ini masih tetap berseliweran hingga Lebaran Haji. Semoga berita-berita itu tidak membuat masyarakat memiliki mispersepsi terhadap ibadah umroh dan haji. Agama Islam itu jelas suci, kalau orangnya? Belum tentu, termasuk saya juga.

“ Berkat undangan Pangeran Arab, tahun 2016 saya bisa menginjakkan kaki ke Saudi Arabia pertama kalinya tanpa biaya sepeser pun, dan juga melakukan ibadah umroh pertama kali”

  • Student Traveler

Saat Program MiSK Global Forum selesai (baca cerita sebelumnya disini), saya dan rombongan tidak langsung pulang ke Indonesia. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk berumrah!

I just can’t believe that today is my Umroh day!

Saya dan kelima teman MiSK, Mbak Reky, Mas Sony, Mas Adhika, Mas Randy, Mas Ray akan mengikuti ibadah umroh selama 3 hari 2 malam. Tim Indonesia terbagi dua grup Umrah, grup satu lagi ada Dissa dan ibunya, mbak Ajeng dan mas Zaky, dan mas Amir. Mereka berangkat lebih awal lagi karena pesawatnya jam 5 pagi.

IMG_20161117_073846_HDR

Pesawat yang membawa kami ke Madinah

Rute Umroh Trip kami seperti ini:

Riyadh – Madinah – Mekkah – Jeddah

Karena waktu kami yang terbatas, kami akan melakukan umroh ekspress selama 3 hari 2 malam. Satu malam masing masing di Madinah dan Mekkah. Subuh-subuh, kami check out dari Rosh Rayhaan by Rotana Hotel. Mobil jemputan sudah siap mengantar kami ke bandara.

Peaceful Madinah

Setelah 1 jam penerbangan dari Riyadh ke Madinah, tibalah di kota kedua, Madinah!

Madinah ini menjadi kota yang special bagi umat muslim, karena Madinah ini tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW. Kota ini juga disebut sebut kota paling suci setelah Mekkah.

Kami berenam dijemput oleh guide tur Umroh, bernama Pak Rahmat. Pak Rahmat ini orang Cianjur yang sudah 5 tahun bekerja di Arab Saudi. Bus besar sudah menunggu di halaman parkir. Hari itu Madinah cukup panas. Karena kami hanya berenam, bus serasa milik kami pribadi, karena banyak kursi kosong.

IMG_20161117_104035_HDR

Arrived in Madinah : Mas Sony, Mas Randy, Mas Adhika, Mas Ray, Saya, dan mbak Reky

Selama perjalanan di bus, Pak Rahmat mengenalkan diri dan sedikit menjelaskan tentang agenda umroh. Rute Pertama kami adalah Mesjid Al Quba.

Masjid Al Quba itu masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW. Kami menunaikan solat Zuhur dan Jama’ Ashar disana. Mesjidnya berwarna putih, dan masuk kesana rasanya entah adem sekali.

DSCF3119

 Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri…….(At Taubah, 108).

DSCF3124

Masuk ke ruang Salat Wanita, saya melihat banyak wanita Arab berpakaian serba hitam sudah memenuhi ruangan. Setelah mendapat space kosong untuk solat, saya kaget tiba-tiba ada wanita Arab berjalan lewat di depan saya. Kalau kata orang Sunda kan itu pamali, tapi anehnya melangkahi orang solat disitu adalah hal yang wajar. Belum saya menuntaskan rakaat terakhir, tiba-tiba saya diteriaki oleh wanita penjaga masjid dengan bahasa Arab yang entah sepertinya menyuruh saya pergi. Ebuset, kok orang Solat diteriaki seperti itu sih?

Perjalanan dilanjutkan ke pusat kota Madinah, menuju Hotel kami yang berada di dekat Mesjid Nabawi. Memasuki kota Madinah, saya merasakan aura yang berbeda dari kota-kota lain di tanah Arab yang terkesan gersang. Kota Madinah ini memberikan kesan yang sejuk dan teduh. Mungkin karena banyak gedung-gedung tinggi, sehingga jalanan ternaungi oleh bangunan tinggi tersebut.

DSCF3128

Tiba di Hotel Sourfa, kami drop barang sebentar lalu pergi mencari makan siang. Saya tidak begitu kaget ketika melihat banyaknya papan-papan tulisan berbahasa Indonesia. Jamaah Umroh dan Haji terbesar itu ya dari Indonesia, dan konsumen utama toko-toko di Mekkah dan Madinah itu juga orang Indonesia. Orang Indonesia kan paling terkenal doyan belanja hehehe.Kami pun makan di restoran Indonesia dengan menu ala warteg, saya makan nasi putih, sop sayur, dan telur balado (ya Allah enak banget!). Tukang masaknya orang Indonesia, jadi rasanya Indonesia banget.

Setelah makan siang, rombongan saya mendapat waktu bebas untuk keliling Masjid Nabawi sambil menunggu waktu solat Magrib tiba. Rencananya kami akan ke Raudah pada malam hari, ditemani oleh Mutawif Wanita. Saya, mbak Reky, mas Sony dan mas Adhika menyusuri koridor jalan menuju masjid Nabawi nan sejuk. Terinspirasi melihat wanita Arab yang sebagian besar bercadar, saya memutuskan untuk beli Cadar sendiri.

Saya mampir ke satu toko, tanpa ragu, saya Tanya dalam bahasa Indonesia.

Saya : “Berapa pak?

Bapak Arab : “Sepuluh riyal..”

Tuh kan? Pasti bapaknya ngerti bahasa Indonesia, haha. Harga satu cadar hitam sekitar Rp 30.000.

Setiba di pintu gerbang utama Mesjid Nabawi, kami berfoto-foto. Banyaknya burung merpati yang beredar di jalanan membuat kota Madinah ini seperti di Eropa. Sesekali saya godain burung merpati lagi berkumpul dengan lari kencang, lalu mereka terbang berhamburan. Hehe. Ah, indahnya Madinah ini, kota-nya liveable banget. Letak hotel-hotel untuk jamaah umroh ini sangat dekat dengan masjid Nabawi, jadi cukup jalan kaki engga sampai 5 menit dari hotel ke masjid, dan mudah untuk bulak balik.

IMG_20161117_162157

Assalamualaikum Madinah..

Beribadah di Mesjid Nabawi

Pertama kalinya masuk ke Mesjid Nabawi, saya langsung terpana melihat interior masjidnya yang indah. Langit-langitnya cantik sekali.

IMG_20161117_222733

Sambil menunggu magrib, seluruh jamaah menghabiskan waktu dengan solat sunah atau tadarus. Ketika saya duduk, seorang laskar masjid memberikan saya sepotong kurma dan kopi panas sambil tersenyum. Masya Allah.. momen sederhana, tapi bermakna.

IMG_20161117_171249

Malam harinya, saya dan mbak Reky menghabiskan waktu di dalam masjid Nabawi.

IMG_20161117_172455

BERDOA DI RAUDAH

Setelah makan malam, kami janjian dengan ibu Yuni, mutawif wanita yang akan menemani kami untuk masuk Raudah. Saya merasa malu karena sebelumnya tidak banyak riset tentang Raudah jauh jauh hari, yang saya tahu disanalah makam nabi Muhammad SAW berada. Untung saya membawa buku panduan Wisata Religi Mekkah dan Madinah, jadi saya bisa dapat referensi tambahan.

Konon, doa yang paling mustajab itu saat berada di dalam Raudah. Jadi, jamaah umroh yang singgah di Madinah disarankan untuk mendatangi Raudah dan berdoa disana. Bu Yuni, mutawif kami ramah sekali, beliau orang asli Jawa Timur yang sudah lama tinggal di Arab Saudi. Selama perjalanan menuju Raudhah, bu Yuni menjelaskan tentang Rhaudah beserta keistimewaannya. Saya sudah diberi tau oleh banyak orang kalau masuk Raudhah itu penuh perjuangan, karena ukuran Raudhah yang tidak terlalu besar (22 m x 15 m) namun jamaah ingin masuk kesana ribuan orang, terlebih lagi wanita hanya mendapat akses masuk Raudhah di waktu tertentu saja, sedangkan laki laki 24 jam penuh.

IMG_20161117_222641

Saya dan Mbak Reky di depan Rhaudah

Tiba di pintu masuk Raudhah, ratusan jamaah sudah mengantri di depan pintu masuk Raudhah. Bu Yuni yang sudah terbiasa membawa jamaah masuk mengarahkan kami dimana kami harus menunggu. Askar masjid berpakaian hitam sudah standby di pintu masuk sambil mengawasi para jamaah yang kadang ‘suka bandel’. `

“Ibu, ibu! Duduk, duduk!!!” teriak si Askar kepada beberapa jamaah yang berdiri dengan bahasa Indonesia. Hebat ya si Askar masjid ini sudah tau mana jamaah Indonesia, mana yang bukan. Seluruh jamaah yang mengantri wajib duduk untuk alasan keamanan.

IMG_20161117_214223

Askar Masjid berteriak “Ibu, duduk!” di Raudhah

Setelah menunggu beberapa waktu, tiba-tiba pintu Raudhah dibuka. Semua berhamburan masuk menuju karpet hijau. Karpet Hijau merupakan tanda Raudhah. Bu Yuni langsung membawa kami ke bagian sudut dan mempersilahkan kami untuk beribadah Sunnah. Kondisi-nya agak chaos di dalam, karena semua desak-desakan mencari ruangan untuk solat. Kami pun memanfaatkan waktu yang singkat ini dengan solat sunah.

Muncul sebuah perasaan emosional yang membuat saya merasa begitu dekat dengan Rasulullah, air mata pun jatuh dari pelupuk mata saya.

IMG_20161117_222515

Raudhah, Taman Surga

Ya Nabi salam alaaika.. ya Rasul salam alaaika…

My first moment in Raudhah was really beautiful…

Madinah-Mekkah

Keesokan harinya, kami bersiap-siap menuju Mekkah. Sesuai jadwal, jam 1 siang kami berangkat menuju Bir Ali untuk melakukan Miqot, rukun pertama Umroh. Kami berenam naik bus super besar bersama Mutawif kami menuju Bir Ali dan tiba sekitar pukul 2 siang. Disitu kami para lelaki disarankan untuk berganti pakaian ihram. Saya dan mbak Reky sudah memakai pakaian putih.

IMG_20161118_151912

Bir Ali

IMG_20161118_151945

Di Bir Ali, kami mendapatkan ujian. Pak Rahmat ini menujukkan sikap kurang professional. Tiba-tiba kami dibertahu kalau kami tidak akan naik bus ke Madinah, melainkan mobil, dan mobilnya HANYA SATU.

Bagaimana mungkin satu mobil bisa menampung tujuh orang bersama koper? Saat itu saya berang sekali, karena saya yang mengatur arrangement umroh untuk saya dan teman-teman saya. Saya sempat complain ke pihak tur umroh di Indonesia lewat Whatsapp Call. Pihak tur umroh juga ikut berang dengan sikap Pak Rahmat. Suasana yang keruh ini ikut membawa kesal beberapa teman saya, dan saya pribadi merasa bersalah. Kami meminta untuk tetap melakukan perjalanan dengan bus atau dua mobil, Bapak itu bilang tidak bisa, karena mobil hanya satu. Saya pernah dapat cerita dari orang yang pernah ber-umroh dan ber-haji kalau selama beribadah di tanah suci, kadang ada aja ‘cobaan’ nya. Mungkin inilah ujian kami, tepat di Bir Ali.

Setelah berdebat panjang, akhirnya kami menyerah dan menerima kenyataan kalau kami akan naik satu mobil dengan isi tujuh orang lengkap dengan seluruh koper kami. Sebelum berangkat, Muttawif kami akhirnya mengajak kami untuk menenangkan diri dan mulai berniat umroh. Saya pun istigfar berulang-ulang. Saya tidak mau kejadian ini mengurangi pahal ibadah saya. Setelah berdoa, kami pun berpamitan dengan muttawif. Saya memutuskan untuk duduk di paling belakang bersama koper-koper.

Perjalanan Madinah ke Mekkah memakan waktu sekitar 5 jam, dan hanya transit sekali untuk mengisi bensin. Beberapa barang sesekali menimpa saya saat mobil sedang berguncang. “Astagfirullah..” sabar, sabar… Pemandangan yang saya amati hanyalah bukit bukti bebatuan, hingga saya tertidur.

MEKKAH

Ketika terbangun, langit pelan-pelan semakin gelap, rona berwarna jingga. Cantik sekali. Entah jantung saya berdegup kencang ketika memasuki kota Mekkah. Langit sudah gelap sempurna, kota Mekkah bergitu ramai dan terang oleh lampu-lampu jingga. Jam 9an malam kami tiba di Hotel untuk check-in dan makan malam.

Hotel yang diberikan juga tidak sesuai dengan akad awal. Tapi kabar baiknya, hotel ini dekat sekali dengan Masjidil Haraam. Kami pun makan malam di hotel sebelah, menu nya makanan Indonesia, dan sepertinya makan malam kami ikut rombongan umroh lain. Setelah kami makan malam, kami langsung bersiap-siap untuk melakukan ritual umroh bersama Muttawif.  Bismillah..

IMG_20161118_231729

Umroh Dini Hari

Sekitar hampir pukul 12 malam, kami pun tiba di depan Masjidil Haraam. Masya Allah, sudah jam 12 malam tapi ramai sekali dengan jamaah yang ingin melihat rumah Allah. Sesekali saya mengucapkan syukur. Memberikan rezeki yang tak disangka-sangka, dan jumlahnya selalu lebih dari yang saya minta. Siapa yang bisa menjamin di dunia ini, dengan niat umroh tanpa kemampuan materi yang cukup, dan hanya Allah yang bisa menjamin dan mencukupkan saya untuk pergi ke Tanah Suci.

Mutawif pun mulai menjelaskan rukun dan  adab-adab selama beribadah umroh.

Ada empat Rukun Umroh :

  1. Niat Ihram di Miqot (sudah dilakukan di Bir Ali),

  2. Tawaf

  3. Sa’I

  4. Tahalul

  5. Tertib.

20 tahun yang lalu saya mempelajari rukun tersebut dari buku Agama dan guru ngaji saya, dan alhamdulilah akhirnya saya diperbolehkan untuk mempraktekan rukun tersebut di tanah suci.

Kami pun bersama-sama berdiri di baris yang sejajar dengan garis hijau. Lalu, kami memulai tawaf (berkeliling Tawaf 7 kali). Saya berusaha untuk berjalan secara khusyu,tapi tetap memerhatikan kondisi sekitar, karena takut tertabrak jamaah lain. Sesekali saya mengamati Ka’bah. Masya Allah.. saya ga bisa berkata kata lagi. Saya lanjut berjalan. Tengah malam itu, jamaah ramai sekali. Ternyata banyak jamaah yang memutuskan untuk berumroh di malam hari untuk menghindari panas terik di siang hari. Setelah putaran ketujuh, kami pun beristihat dengan meminum air yang tersedia di sudut-sudut area Ka’Bah.

Mutawif langsung membawa kami ke lokasi Sa’i. Sesuai pengertiannya, Sa’I itu berjalan dari Bukit Marwa dan Bukit Safa selama 7 kali bulak balik. Saya kira kami akan pergi menuju bukit yang benar-benar terlihat bukit. Ternyata Bukit Safa dan Marwa ini sudah diberi konstruksi bangunan, sehingga Sa’I dilakukan seperti berada di dalam ruangan. Berbeda dengan Tawaf, Sa’I ini tidak harus dalam keadaan suci. Sepanjang jalan antara Bukit, tersedia air untuk minum. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, tubuh saya lelah luar biasa. Beberapa hari ini saya hanya tidur 2-3 jam per hari. Sesekali saya istirahat sebentar di sela-sela menjalankan Sa’I, lalu berjalan lagi. Alhamdulilah, kurang lebih 1 jam saya menyelesaikan rukun Sa’i. Rukun Umroh diakhiri dengan Tahalul yaitu menggunting sedikit rambut.

Saya menyelesaikan umroh pada jam 3 pagi, lalu saya kembali ke hotel untuk istirahat sebentar sebelum waktu subuh tiba. Setelah tidur 1 jam, saya bangun dan pergi kembali ke Masjidil Haram untuk menunaikan salat Subuh. Pertama kalinya saya jalan sendiri ketika hari masih gelap di Arab Saudi, alhamdulilah aman.

MASJIDIL HARAM, MASJID YANG TIDAK PERNAH TIDUR

IMG_20161119_065540

Kalau New York disebut sebagai The City that Never Sleeps, kalau Masjidil Haram pantas saya sebut The Mosque that Never Sleeps. Subuh-subuh, jamaah sudah ramai memenuhi segala sudut masjid.

“Hello again Ka’bah..” sapa saya dalam hati sambil tersenyum ketika melihat Ka’Bah yang berdiri megah di tengah-tengah Masjidil Haram. Konstruksi masjid dan bangunan sekitar Ka’Bah cukup bernuansa modern. Katanya sempat ada kontroversi kalau desainnya tidak menunjukkan kesederhanaan, sebagaimana Islam mengajarkan tentang kesederhanaan.

IMG_20161119_123318_HDR

Seluruh jamaah menunaikan salat subuh bersama, ada banyak perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata saat berumroh. Seperti bagaimana bisa melihat jamaah melingkari ka’bah untuk solat. Selama traveling ke berbagai negara, kita selalu berusaha mencari orientasi kiblat kea rah Ka’bah. This time, no need to find direction. It’s just few meters away from my feet. MasyaAllah.

Fabiayyiaalairobbikumaatukazzibaan. Alhamdulilah, alhamdulilah.

Momen subuh itu membuat saya paham mengapa banyak muslim selalu ingin dipanggil kembali ke tanah suci.

Hari itu adalah hari terakhir saya di Mekkah, juga di Arab Saudi, malam harinya kami harus kembali ke Indonesia melalui Jeddah. Saya menghabiskan waktu dengan memandangi Ka’bah dari transisi gelap hingga terang (matahari terbit). Ketika langit sudah agak terang, saya mencoba untuk mendekat ke Ka’bah, saya mencoba berjalan mendekat diantara jamaah yang sedang tawaf, badan saya yang mungil ini agak rentan terdorong jamaah lain, jadi saya harus berhati-hati. Semakin mendekat, entah hati saya seperti teriris dan ingin menangis, saya melihat orang-orang menyentuh dinding Ka’bah yang hitam sambil menunduk dan berdoa. Sebagian besar menangis. Ya Allah, akhirnya saya bisa sedekat ini dengan Ka’bah. Air mata pun tumpah ketika menyentuh dinding Ka’Bah pertama kali.

IMG_20161119_125651_HDR

Ka’bah

IMG_20161119_125638_HDR

Saya tiba-tiba teringat bagaimana saya berniat untuk umroh tapi saat itu tidak punya dana, tapi niat saya didengar Allah, dan diberi jalan yang tidak diduga. Firman Allah itu tidak pernah ingkar, memang Rejeki itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bisa dari orang terdekat, dari orang tidak dikenal, dari karya kita bahkan sekalipun dari Pangeran Arab Saudi. Ecofunopoly telah membukakan saya untuk berkunjung ke tanah suci, hal ini semakin menguatkan saya kalau kita berniat untuk berkarya secara positif dan mengutamakan ridho Allah, maka tidak perlu risau karena kita memiliki Allah yang selalu mengawasi kita dan memberi rejeki yang kadang tidak logis jika memakai Matematika manusia.

IMG_20161119_120025_HDR

Ya Allah, panggil aku dan suamiku kembali ke rumah-Mu.. Cukupkan rezeki kami dengan cara yang halal.. amiiin.