What I Have Seen in Myanmar – As A Muslim

DISCLAIMER : Tulisan ini hanya ingin mengajak para pembaca untuk lebih jernih menyikapi isu konflik dan tidak memperkeruh situasi yang bisa merugikan orang lain yang sesungguhnya tidak bersalah, hingga membuat persepsi baru membentuk kebencian baru. Tulisan ini bukan berarti melarang pembaca untuk bersuara atau beraksi untuk muslim Rohingya. Tulisan ini juga bukan menunjukkan keberpihakan saya terhadap Myanmar. Saya menolak penuh kekerasan dan perbuatan keji terhadap muslim Rohingya dan juga warga lokal di Myanmar.

Kemarin saya baru saja ikut menandatangani petisi Cabut Penghargaan Nobel dari Aung Sang Suu Kyi karena sikap acuh-nya dalam krisis kemanusiaan yang dialami warga Rohingya yang menelan banyak nyawa secara tidak pantas. Jadi pemimpin itu ujiannya emang gede. Saya tahu konflik ini bukan persoalan agama saja, lebih dari itu. Sedihnya, agama kembali digunakan untuk alat memicu konflik oleh orang-orang yang punya kepentingan.

Prinsip saya, yang namanya kekerasan, dan menelan nyawa sudah tentu perilaku yang hina dan tidak disukai oleh Allah SWT. Mau gimana pun bentuknya, mau siapapun korbannya, tanpa mengenal suku, ras, agama, dan lain-lain.

Sebenarnya saya jarang menulis sesuatu yang berkaitan dengan SARA atau konflik internasional. Topiknya rawan banget tapi saya saya gatal ingin menulis. Melihat banyaknya mispersepsi beberapa teman (dan acquaintance yang gak saya kenal-kenal banget) di Facebook yang berbagi tulisan atau link yang menunjukkan konflik di Rohingya, namun diiringi dengan caption yang provokatif, dan memicu untuk membuat stereotype terhadap golongan tertentu. Saya melihat teman FB saya menulis “Ini semua karena Buddha!” atau “bom saja Myanmar!”.

Saya sedih sekaligus geram membaca tulisan ini, bagaimana bisa menyalahkan satu agama seutuhnya padahal yang berbuat keji hanyalah oknum-oknum yang merusak agama mereka sendiri? Atau menyalahkan semua warga di negara tersebut padahal negara itu isinya tidak Cuma orang Buddha, ada Muslim, Kristen, Katolik yang sama sekali tidak ikut ikutan? Mau nge-bom Myanmar, padahal disitu ada warna muslim lokal disana. Mau bunuh saudara se-iman lagi? Saat ini, umat muslim juga sangat tertekan oleh bagaimana oknum oknum mengaku berjihad atas nama Islam dengan mengebom diri sendiri, dan membunuh banyak nyawa tak bersalah, dan mereka menganggap itu mati syahid. Lalu, warga dunia melihat Islam hanya dari para bedebah teroris ini yang seringkali diblow up media sebagai bentuk Islamophobia, nah, kita pasti Kesal kan?

DSCF3021

Lebih sedih lagi, masih ada orang orang terdekat saya yang masih memiliki anggapan yang sama seperti para penganut Islamophobia. Semakin saya dewasa, saya makin mengenal dua kata ini “Politik” dan “Kepentingan”. Semua aksi pasti ada kepentingannya. Sayangnya, dua hal ini yang sering digunakan untuk membolak balikan fakta, hingga menjadi senjata yang kejam.

Di sisi lain, linimasa Facebook saya dipenuhi oleh postingan teman-teman saya di Myanmar (sebagian besar mereka beragama Buddha) yang meminta orang-orang untuk tidak mudah terpengaruh berita hoax dan mengandung unsur propaganda. Mereka juga takut jika mereka dianggap pembunuh atau orang-orang yang tidak berperikemanusiaan.

Tulisan ini bukan utamanya membahas konflik Rohingya, saya hanya ingin berbagi pengalaman saya bertika berada di Myanmar selama satu minggu, dan apa yang saya lihat disana.

Moga moga tulisan ini bisa menekan angka orang Indonesia yang masih suka menelan bulat-bulat artikel atau postingan, tanpa mencari tahu sedalam-dalamnya dari berbagai sumber.  Cukup baca judul, liat gambar keji, lalu tanpa pikir panjang, di-share dengan kata-kata provokatif.

Karena orang-orang Buddha yang pernah saya temui baik di Myanmar maupun di negara lain tidak seperti ekstrimis Buddhist yang berbuat keji terhadap Rohingya, sekalipun biksu yang saya temui. Setiap kali traveling keluar negeri, saya selalu memposisikan diri saya sebagai muslim yang damai .Mungkin ini bisa menjadi dakwah kecil saya agar orang-orang bisa mengetahui Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.

Let me tell you a story of how I traveled to Myanmar as a muslim, wearing Hijab, and I didn’t get killed.

Bulan Mei silam saya pergi ke Myanmar, tepatnya ke Yangon yang berada di bagian Selatan negara Myanmar, agak jauh dari Rakhine, dimana muslim Rohingya bermukim. Tujuan perjalanan saya ke Myanmar adalah untuk menjalankan project lingkungan berjudul Ecofun Go! ASEAN, yang mana saya membuat pilot di 3 negara : Indonesia, Filipina, dan Myanmar. Jadi, Tujuan perjalanan saya murni untuk membuat program edukasi dengan anak-anak di Myanmar. Kenapa Myanmar? Ada alasan yang terkait dengan agama dan budaya. Saya memilih Indonesia sebagai perwakilan mayoritas muslim, Filipina mewakili mayoritas Kristen, dan Myanmar mewakili Buddha. Saya memiliki hipotesis kalau ajaran agama atau tradisi budaya suatu masyarakat termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan itu berhubungan satu sama lain. Benar atau tidak nya saya tidak tahu.

“Lo mau ke Myanmar? wah hati hati ya.. itu kan ada konflik orang sana sama muslim Rohingya..” sahut teman saya setelah saya cerita saya mau ke Myanmar. Waktu perjalanan saya ke Myanmar itu memang konflik Rohingya masih berjalan. Saya tahu teman saya tidak benci Myanmar, tapi hanya menyuruh saya berhati-hati. Waspada itu harus. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Myanmar. Gara-gara teman saya ngomong gitu, saya jadi kepikiran. Apa mungkin saya ikut dibantai karena saya muslim dan berjilbab? Sampe saya cek di google Map, berapa jauh jarak antara Yangon dengan Rakhine.

“Oh, 689 km.. hmm, inshaAllah aman lah ya.” Pikir saya. Bismillah, inshaAllah kalau niat awalnya baik, pasti Allah akan memudahkan.

Tibalah saya di Yangon, kota yang dulunya menjadi ibu kota Myanmar, sekarang sudah berpindah ke Naypidaw. Saya dijemput oleh teman saya orang asli Myanmar, Myat Mo Hsu dan Suaminya, Phyo Wai. FYI, They are Buddhist. Saya bertemu Hsu ketika kami mengikuti program di Australia bulan Maret silam. Hsu dengan berbaik hati menjemput saya dan mengajak saya makan malam di restoran yang fancy. Mereka berdua adalah dokter, dulu waktu saya ga fit di Aussie, Hsu banyak ngasi saran kesehatan.

Enaknya menjadi muslim yang berjilbab, saya tidak perlu mengenalkan diri kalau saya muslim. Berbeda kalau muslim laki laki yang banyak orang terkecoh, apa dia muslim atau bukan. Saya jarang membuka pembicaraan dengan membahas soal agama atau konflik yang mengatasnamakan, kecuali mereka bertanya. Tapi, Hsu langsung bercerita kalau di pusat kota Yangon ada tiga tempat ibadah berdiri satu sama lain : Pagoda, Mesjid dan Gereja. Ternyata muslim di Yangon itu ada banyak sekali, dan hidup berdampingan dengan mayoritas pemeluk agama Buddha. Waktu naik kendaraan, saya melihat ada segerrombolan wanita menggunakan kerudung bergo, lalu ada bapak-bapak berpeci, dan lain lain.

DSCF3109

Mesjid di pusat kota

Lalu, saya pergi ke Maubin, daerah sub-urban yang terletak 2 jam dari kota Yangon untuk menjalankan program edukasi Ecofunopoly. Saya memiliki anggota tim bernama May Kyi Kyaw Kyaw yang mengurus pelaksanaan program. Jujur, saya malah agak khawatir saat pergi ke Maubin, karena itu daerah terpencil, takut ada warga yang ketakutan ketika melihat muslim karena mendapat doktrin tertentu atau apa. Seperti pengalaman saya dulu pernah pernah bertemu beberapa orang di kampung di Indonesia yang sering menjadi korban doktrinasi: Melihat orang non-muslim sebagai musuh, padahal mereka tidak berbuat jahat.

May mengatakan di Maubin sangat aman, dan dia akan selalu bersama saya. Oke, bismillah. Tiba di Maubin, saya disambut hangat oleh keluarga May dan teman-teman May yang akan menjadi volunteer. Saya ibarat pejabat kota yang lagi kunjungan kerja ke daerah. Begitulah saya diperlakukan. Lalu saya pergi ke lokasi program, disambut oleh kepala Sekolah dan beberapa orang dinas setempat. They don’t see any strange in me, they just greet me just like when they greet Burmese people. Hanya sayangnya kami tidak bisa banyak ngobrol karena mereka tidak bisa bahasa Inggris, saya sendiri tidak bisa bahasa Burma.

Yang lebih luar biasa lagi adalah, daerah sekecil Maubin ini memiliki tiga masjid! Dan masjidnya masih aktif digunakan untuk ibadah oleh warga muslim lokal. Faktanya adalah orang Islam di Myanmar tidak hanya beretnis Rohingya saja, tapi ada juga etnis lokal lain dan mereka hidup berdampingan.

DSCF1667

Mesjid

DSCF1689

Selesai program dari Maubin, Hsu mengajak saya pergi ke Pan Pyo Lett Monastery, sebuah kuil Buddha yang ada sekolah bagi anak-anak yatim atau dari keluarga miskin. Hsu tertarik untuk membawa Ecofunopoly dan mengenalkan saya dengan biksu yang memimpin disana.

“Is that okay for me to go there?” Tanya saya memastikan ke Hsu.

“Of course, why not? Siapa aja boleh datang, tidak harus orang Buddha..” jawab Hsu dengan santai.

Sambil menunggu biksu datang, kami bermain Ecofunopoly bersama anak-anak disana. Jam 12, kami disuguhi makan siang dari pengelola kuil secara Cuma-Cuma. Saya baru tau kalau di kuil ini setiap tamu yang datang harus disuguhi makanan. Makanan ini diperoleh dari sedekah orang-orang yang datang ke kuil. Biksu pun datang dan menyapa semua tamu termasuk kami. Hsu menjelaskan kedatangan kami kesana, dan menunjukkan game Ecofunopoly. Sang Biksu yang berkain warna merah marun sesekali melihat saya dan tersenyum.

“What makes you come to Myanmar?” Tanya si Biksu tiba-tiba.

“Uh, oh.. I.. “ saya bingung mau jawab apa, dan agak kikuk, karena ini pertama kalinya saya berbicara dengan Biksu.

“Is it because you want to see extremist Buddhist?” Tanya lagi si Biksu.

“Oh, no, no, no! I have a project in here..” jawab saya buru-buru.

“I’m just kidding! Well, have yourself at home in here, we have a villa to stay, you stay there anytime.. whenever you come to Myanmar, feel free to contact me..” balas si Biksu tersenyum sambil menyodorkan kartu nama. Ternyata beliau bergelar PhD dan studi di luar negeri, pantes bahasa Inggrisnya lancar.

DSCF3010

Dari pertemuan saya dengan biksu ini, saya sadar kalau ada biksu yang baik, dan memang seharusnya baik, betul kan? Andaikata saya hanya membaca berita dari internet tentang betapa kejamnya biksu ekstrim yang membantai warga Rohingya, mungkin saya akan memiliki paham kalau semua biksu itu jahat.

Satu minggu di Myanmar, alhamdulilah saya bisa kembali ke Indonesia dengan selamat dan utuh. I didn’t get killed, and so the other muslim I found in Yangon and Maubin. Saya sadar kalau krisis di Rohingya itu lebih dari sekedar persoalan agama, bukan sekedar Islam vs Buddha. Karena warga muslim yang tidak beretnis Rohingya masih hidup dengan baik disana. Keserakahan, kepentingan atau perebutan wilayah geopolitik telah membutakan orang-orang keji ini untuk menggunakan agama sebagai alat memperdaya dua belah pihak untuk merusak hubungan. Belum lagi, konflik ini juga berawal dari berawalnya kedua belah pihak yang berbuat keji, pemerkosaan, balas dendam yang membuat situasi kian rumit.

Saya sadar Krisis di Rohingya itu lebih pantas disebut sebagai krisis kemanusiaan. Cukup jadi seorang manusia untuk melawan krisis ini. Dan semoga kita semua dijauhkan oleh hasutan dan doktrinasi kebencian yang membuat kita buta atas apa yang sesungguhnya terjadi.

#SaveRohingya #SaveHumanity #SayNoToExtremist