Eat Play Love (Last Chapter : Ecofunopoly and Fly Home)

Suatu siang yang terik di akhir bulan Maret 2012, saya dan teman-teman backpacker saya (Nisty, Denda, Tahmid)Β  sedang menyusuri salah satu jalan di Kuta. Kami menyebut diri kami sebagai backpacker kere dari Ciawi. hehe.

Hari itu adalah hari terakhir kami di Bali sebagai seorang backpacker, kami telah menyusuri indahnya alam Ubud sampai eksotiknya Pantai Kuta..

Untuk traveling kali ini, saya dan teman-teman ingin melakukan sesuatu yang lebih bermakna saat jalan-jalan. Kami ingin menjalankan eco-travelling. πŸ™‚

Karena Β travel kali ini bertemakan Eat PLAY Love, (kalau Julia Roberts pergi ke Italia, India, dan Bali bertemakan Eat Pray Love, yaitu untuk mencari Tuhan dan cinta) jadi kami akan mencari anak-anak buat diajak main! hehe.

Yup, perjalanan kali ini saya ingin mempromosikan game Ecofunopoly kepada anak-anak di Bali. Mengajak mereka main di saat saya travelling tentunya akan menyenangkan. Berbekal satu set game Ecofunopoly yang saya bawa dari Bogor, saya pun berjalan menyusuri jalanan di Kuta.

Hari pertama dan kedua, kami tidak menemukan anak-anak yang berkeliaran di jalan, kami juga tidak menemukan sekolah dasar yang bisa kami kunjungi untuk mengenalkan pendidikan lingkungan melalui permainan.

Hingga hari terakhir, kami pun memutuskan bahwa kami harus bertemu anak-anak atau menemukan sekolah dasar.

Saya dan Nisty berjalan menyusuri trotoar Kuta – Bali.

Panas matahari cukup menyengat, kami sudah berjalan cukup jauh di pinggir trotoar Kuta, untungnya kami baru saja menjalani misi Eat dari Eat Play Love kami, kami baru aja makan Ayam Betutu khas Bali dengan ganas saking laparnya. hahaha.

Lalu, saat saya terus berjalan, saya menemukan sign yang tertulis, “SD Nomor 1 Kuta”.

Finally, saya ketemu SD juga!

SD Nomor 1 Kuta

Wow, kami bangga sekali akhirnya bisa menemukan sekolah, hehe.

Saya pun mengintip bagian dalam sekolah dari pintu masuk. Sekolahnya asri sekali, banyak ditumbuhi pohon, kondisinya bersih pula.

Disitu saya menemukan sekawanan anak-anak yang sedang bermain di koridor kelas. oke, target found. *seolah-olah sedang menjalankan misi*

saya pun memberanikan diri masuk dan berkenalan dengan adik-adik SD tersebut. Teman-teman saya pun mengikuti saya, mereka siap memegang kamera untuk mendokumentasikan momen-momen ini.

Saya : “Halo adek-adek! lagi pada main ya? punya waktu kosong ga? kakak punya mainan nih!”]

Anak-anak SD : “wah iya ka, wah mainan apa?” mereka langsung ribut.

Saya : “oke tenang,, tenang,, kalian kelas berapa ya?”

Anak-anak SD : “Kelas 5 kak!”

Oh, sip, kelas 5 SD cukup ideal untuk dikenalkan game Ecofunopoly. πŸ™‚

Saya : “oke, kenalkan nama kakak, Annisa, kakak asalnya dari Bogor, kakak kesini ama temen-temen, lagi jalan-jalan.. hehe, adek-adek pernah main monopoli?”

sebagian menjawab iya, sebagian pula tidak.

Saya : “oke sekarang kakak mau mengenalkan permainan baru, permainan ini digunakan untuk belajar lingkungan, namanya ecofunopoly, mau coba main?”

anak-anak : “mau ka! mau!!” mereka teriak kencang.

Akhirnya saya keluarkan material permainan satu per satu dari tas ecofunopoly berwarna coklat.

Mereka memperhatikan setiap material yang saya keluarkan, mereka penasaran karena game ini terbilang baru.

Akhirnya saya pun mulai menjelaskan peraturan dan menentukan jumlah pemain.

Nah, menentukan jumlah pemain adalah hal yang sulit, saat itu ada lebih dari 10 orang ingin main,

tapi pion yang disediakan hanya 5, jadi saya harus menentukan pemainnya. Pemilihan pemain berlangsung ricuh, semua ingin main.

“saya kak! saya!!! saya!! ” semua teriak begitu.

Karena sudah terbiasa dengan hal ini, saya pun pelan-pelan mencari 5 pemain dari mereka. Yang tdk mendapat giliran pun tetap ikut memperhatikan. (anak-anak Bali ternyata lebih penurut dibanding anak-anak Bogor, ;p ).

Β 

Simulasi permainan dimulai!

Simulasi permainan pun dimulai, saya bertugas sebagai Miss Karbon, saya mengatur permainan, memegang karbon, dan memberi pertanyaan.

Simulasi berjalan dengan lancar. Anak-anak mengikuti tempo permainan dengan baik, menjawa pertanyaan yang ada. Beberapa pemain jatuh di kotak Perilaku. Mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan seputar aktivitas sehari-hari.

Saya : “1 minggu terakhir, pernahkah kamu buang sampah sembarangan?”

Bocah laki-laki yang jd pemain : “hmm,, engga kak..”

Teman-teman bocah itu : “oh boong-boong! dia pernah tuh kak buang sampah sembarangan..!”

ini nih serunya kalau main sama teman sekolah, kalau bohong pasti ketahuan, hehe. Game Ecofunopoly ini game kejujuran, kalau tidak jujur game tidak akan seru. πŸ™‚

Lalu, pemain lain menerima kartu hijaukan dan panas, dimana mereka mendapat quiz, jika benar maka karbon akan berkurang.

Saya senang anak-anak di SD Kuta ini menikmati permainannya. πŸ™‚

Anak-anak berusaha menjawab pertanyaan yang ada pada kartu ‘Panas’

30 menit berlalu, bunyi bel pun bergema.

Anak-anak : “wah kak, waktunya kita buat les! ”

oh ternyata sudah masuk waktu les, akhirnya saya sudahi permainan.

Saya : “masih pada mau main?”

Anak-anak : “mau ka, mauuu!!!”

Saya : ” hmm, oke kalau gitu saya titipkan ke ibu gurunya aja yaa!! jadi kalian bisa main lagi, jangan lupa mainnya jangan pas waktu belajar yaa! hehe”

Anak-anak : “iya kaaa.. ” mereka langsung menuju kelas.

Saya pun ikut berjalan menuju kelas, mencari ibu gurunya, saya pun berkenalan dengan ibu guru kelas 5 tsb,

namanya Ibu Diah. Saya ceritakan tentang permainan saya dan niat saya untuk menitipkan permainan ini ke SD Kuta.

Ibunya merespon baik, dan menerima titipan 1 set game Ecofunopoly dari saya. Terima kasih bu, semoga bermanfaat!

Serah Terima Game Ecofunopoly

Saya pun langsung pamitan untuk meninggalkan SD Kuta. wuah, lega rasanya.. meski sayang waktu mainnya singkat, tapi mission accomplished! Semoga di travelling berikutnya, saya bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk kegiatan ini!

It was fun!

Setelah dari SD Kuta, kita langsung cabut cari oleh-0leh ke Krisna. Konon katanya, toko Krisna ini tempat yang recommended buat cari-cari oleh-oleh, and it’s true! ternyata disana itu lengkap, kita bisa nemu tas khas bali, lukisan, perabotan kayu, aromaterapi, kosmetik bali, obat-obatan, kacang Bali, T-Shirt, kain pantai, minuman khas Bali, buah, dan masih banyak lagi. Kumplit! Harganya juga kompetitif. πŸ™‚

Kita datengi Krisna yang ada di deket airport Kuta (Krisna ini cabangnya banyak banget di Bali).

Kita habiskan waktu muterin Krisna selama lebih dari satu jam, hehe.

Saya sendiri engga banyak belanja, karena keuangan menipis. Saya hanya beli aromaterapi buat mama dan inna, minuman herbal for my daddy, dan parampa tradisional buat fathia. Total belanja 50ribu ajah! πŸ˜€

Waktunya jam 3 lewat, kami langsung cari taksi untuk pergi ke airport yang letaknya ga jauh dari situ, awalnya kita mau jalan kaki, toh pesawat kami take off pukul 6 sore. Masih ada banyak waktu, kita sendiri juga udah paceklik alias bokek abis. Namun rasa lelah engga bisa menutupi kebokean, so we decided to take a taxi from Krisna to Airport. πŸ™‚

And finally, we had a safe-flight ack to Jakarta, then rode a DAMRI bus to Bogor. πŸ™‚

Alhamdulilah , 3 days-backpacking di Bali cukup mengesankan, saya merasakan how does it feel to be a backpacker in Bali. It was awesome.. It makes me addicted to come back to Bali soon. πŸ™‚

I’m falling in love with Bali, I believe I will come back again.. Β for Β a truly Eat Pray Love, just like Julia Roberts did.

Cheers,

Annisa dan Tim Backpacker Kere Ciawi.