Post Study Abroad

Kembali ke Indonesia memang membuat perasaan gue bercampur aduk, antara bahagia, resah, rindu, semangat, dan lain-lain.

Setelah 1 bulan sekembalinya gue dari Jerman, gue sudah bisa kembali beraktivitas seperti dahulu kala. Menjadi mahasiswa master di IPB sekaligus kerja sambilan di Fakultas Pertanian. Awalnya membingungkan memang, tiba di Fakultas, langsung bertemu orang-orang yang satu tahun sudah tidak ditemui, langsung diberikan arahan apa saja yang harus dikerjakan ke depannya. Bingung.

Ketika sudah terbiasa hanya untuk melakukan satu tugas saja di Jerman, yaitu Belajar. Sekarang otak gue harus di-setting ulang untuk multi tasking, belajar sambil kerja. Menarik memang. J

Namun, alhamdulilah, setelah beberapa minggu melewati ini semua, jiwa gue sudah bisa ‘memijak’ di kampus asal gue. Jiwa yang selama ini terhanyut oleh buaian negara maju, saat ini kembali merasakan kerasnya hidup di negara berkembang.

Ada banyak sekali perubahan setelah 1 tahun kembali ke IPB. Perubahan yang sangat terlihat adalah bagaimana cepatnya program-program di Fakultas (yang pernah gue kerjakan dulu sebelum berangkat ke Jerman) berkembang. Dulu, masih pilot project (proyek percobaan), sekarang sudah menjadi program yang tersistem. Selain itu, Fakultas Pertanian IPB sedang ‘kebanjiran’ kedatangan mahasiswa asing. Lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sehingga mau tidak mau, pekerjaan gue akan berhubungan dengan mahasiswa asing, sehingga komunikasi (minimal) dua bahasa akan gue pakai.

Gue senang dengan pekerjaan gue ini, karena bisa melatih otak gue untuk menjadi bi-lingual (harapannya sih tri-lingual atau lebih, hehe). Selama di Jerman, gue terbiasa menjadi seorang tri-lingual (Jerman, Inggris, Indonesia). Gue sempat kuatir kalo kembali ke Indonesia, gue akan menjadi seorang mono-lingual lagi. L Berbicara lebih dari 1 bahasa di Eropa adalah hal yang lumrah, bukan sesuatu yang baru dan aneh. Mungkin itu yang bikin gue betah juga tinggal di Eropa karena gue suka belajar bahasa.

Beberapa minggu lalu, gue sempat mendampingi mahasiswa Taiwan yang sedang magang di IPB dan profesornya untuk excursión ke Bandung. Kebetulan gue mengantar profesornya (yang begitu gaul penampilannya) ke terminal DAMRI saat kepulangan. Saat di mobil, gue dan profesor Joey, begitulah namanya, melakukan percakapan sederhana. Beliau sendiri menjabat sebagai chairman di departemen animal science di National Pingtung University. Gue ceritakan kalau gue itu mahasiswa apa, lalu sempat Exchange di Jerman sebelumnya, dan pernah diterima s2 di Taiwan (bukan di univ dia) tapi gagal dapat beasiswa, dan lain-lain.

Prof : “So, how do you feel when you come back to your country?”

Gue : “Well, to be honest, I do love Germany, I wish to stay any longer, but I can’t…” sambil nyengir.

Prof. Joey ikutan nyengir.

Prof : “Well I asked my students about leaving Indonesia, they said that they love to live in here, they don’t want to go back to Taiwan.. It’s funny..”

Gue ikut tertawa.

Prof : “It’s human nature.. People always appreciate on something that they don’t have, but not appreciate on something that they have..”

Gue : “Yeah, right..” sambil tertawa kecil.

Dalem banget, tapi gue akui memang iya. Mungkin kalau gue di tinggal di Goettingen 20 tahun, pasti gue ingin kembali ke Indonesia. Hehe.

Professor Joey ini meski style-nya gahul dan santai banget: celana pendek, kaos ketat, gondrong, rambut dikepang, tapi isi otaknya bener-bener mencerminkan seorang akademisi yang rasional. Begitu gue cerita gue pernah diterima di Tunghai University, salah satu universitas di Taiwan, tapi gue ga jadi karena ga dapat beasiswa..

Prof : “But you didn’t apply to our university..” canda si Professor.

Gue : “hehehe.. well, at that time, I only made a small research for university in Taiwan only on Internet.. then I found only Tunghai University which is suitable for me..”

Prof : “Well, if you interested to study for PhD,maybe I can help you.. at least, I can find you a professor..

Gue : “Oh really? thanks.. When I’m finished and still interested, I will concact you..

Selalu ada kesempatan, selalu ada peluang. Indahnya misteri hidup ini, selalu ada hal yang tidak terduga, dan ga pernah kita tahu.

Tidak lupa, gue benar-benar bersyukur atas segala Nikmat yang diberikan oleh-Nya. Nikmat lelah, nikmat melihat dunia baru, nikmat mencicipi hal baru, nikmat bertemu orang baru, dan nikmat-nikmat yang terkadang tidak pernah dilihat oleh manusia. Alhamdulilah.

Sekian cuap-cuap gue ini pasca kepulangan saya dari study abroad.

Semoga saya selalu menjadi orang yang bertawakal dan berikhtiar di jalan Allah SWT. Amiiin.

Selamat berjuang untuk pembaca blog saya!

 

  • welcome back 🙂

    iya dalem banget ya haha “It’s human nature.. People always appreciate on something that they don’t have, but not appreciate on something that they have..”

  • welcome home Annisa

  • kadang kalau main ke luar, gak usah jauh-jauh ke luar negeri deh, hanya ke luar kota pun saya/kita punya keinginan pengen pindah dan tinggal di kota yang kita datengin tersebut. Manusia 🙂

  • gua ketinggalan banyak nih. mulai dari mana enaknya ter?? hahaha

  • rizka nuansa

    Stiap kali saya mmbaca blog, saya tdk pernah mnuliskan komentar, tp kali ini saya ingin mnyampaikan ke mbk annisa terimakasih karena sdh mnginspirasi&smkin mnguatkan saya utk mngikuti mimpi mlihat dunia.tenkyu..

    • ceritadarikotahujan

      terima kasih rizka nuansa!
      senang sekali mendapat apresiasi dr kamu 🙂
      saya yakin kamu pasti bisa kalau ada niat dan usaha! 🙂