Ramadhan ‘Musim Panas’ di Jerman : Puasa 19 Jam

Goettingen_Marktplatz_Oct06

 

Sumber : Wikipedia

Langit semakin gelap menandakan waktu sudah berjalan menuju malam. Udara panas kering mengenai seluruh kulit tubuh. Suasana sudut kota Göttingen yang saya lewati dengan sepeda tua begitu tenang dan sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 sore. Musim panas di Eropa telah memperpanjang waktu terang (daylight), sehingga pukul 9.30 masih dikatakan sore. Langit akan resmi gelap gulita pada pukul 9.45. Saya mengayuh cepat-cepat sepeda tua berwarna ungu menuju supermarket terdekat karena jam 10 malam akan tutup.

Besok adalah hari yang spesial untuk saya, karena untuk kali pertama saya akan menjalankan ibadah puasa di negeri orang. Bulan Ramadhan kali ini cukup menantang bagi saya pribadi, karena bulan Ramadhan ini dijalankan pada musim panas di benua biru. Menurut informasi yang saya baca dari koran lokal setempat, ibadah puasa di Jerman akan dilakukan selama 19 jam dalam satu hari. Reaksi pertama saya adalah lama sekali!

Sewaktu saya kecil, saya pernah menonton tayangan berita dimana sang reporter sedang melakukan wawancara jarak jauh dengan orang Indonesia yang sedang studi di Belgia yang bertemakan Ramadhan di Eropa. Orang Indonesia tersebut bercerita bahwa dia melaksanakan sahur pada pukul 6 pagi dan berbuka puasa pukul 15.30 sore.

“Wow, enak sekali!” pikir saya yang masih bocah saat itu, kalau masih bocah bawaannya selalu ingin cepat berbuka setiap kali berpuasa di bulan Ramadhan, hehe. Karena singkatnya waktu berpuasa, saya bercita-cita suatu saat nanti saya ingin merasakan bulan Ramadhan di negara empat musim. Ternyata saya tidak sadar bahwa waktu Ramadhan itu terus berubah, sehingga waktu Ramadhan tidak selalu terjadi di musim dingin saja, tetapi mungkin juga terjadi di musim panas.

Cita-cita saya akhirnya terkabul melalui kesempatan mengikuti exchange program di Jerman, tetapi tidak dilakukan saat musim dingin, melainkan musim panas. Hehe.

Hari pertama Ramadhan di musim panas akan dimulai pada jam 3 dini hari dan diakhiri pada jam 9.45 malam. Jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, saya iseng bertanya-tanya pada teman-teman Indonesia yang sudah pernah menjalankan ibadah puasa di musim panas di Jerman. Saya sendiri ragu apakah saya mampu menjalankan ibadah puasa selama itu, normalnya di Indonesia puasa dilakukan selama 13,5 jam. Tapi kali ini, saya harus menambah waktu berpuasa selama 4,5 jam lagi!

Ah, apa saya mampu? Pikir saya dalam hati.

Teman-teman yang saya tanyakan bercerita bahwa berpuasa saat musim panas harus menyiapkan fisik dan mental yang sangat kuat, wajib melakukan sahur dengan porsi yang cukup, karena kalau tidak akan sangat berat sekali. Musim panas yang menyengat tidak segan-segan mengeringkan kerongkongan.

Saya pun bertanya juga apakah berat sekali dalam enjalankannya.

Mereka hanya menjawab singkat sambil tersenyum, “Udah jalanin aja dulu, nanti juga bisa merasakan sendiri kok..”.

Setiba di supermarket EDEKA, saya langsung menuju koridor makanan untuk membeli beberapa bahan makanan sebagai amunisi awal untuk berpuasa. Roti, biskuit, jus, dan susu menjadi pilihan saya. Supermarket sebentar lagi akan tutup, saya langsung pergi ke kasir untuk membayar.

Schöne Ramadhan! “ sahut seorang kasir wanita toko EDEKA kepada saya sesaat setelah saya membayar belanjaan saya.

Eh? Ramadhan? Apa saya salah dengar? Ucapan kasir berparas asli Jerman itu membuat saya kaget.

Ehh.. danke schön..” jawab saya sambil senyum heran.

Biasanya setelah pengunjung membayar belanjaan, kasir selalu memberikan kata penutup “Schönen Tag” (Good Day!) Ternyata kasir itu mengubahnya menjadi “Schöne Ramadhan!“ atau “Happy Ramadhan!”. Mungkin dia tahu saya ini muslim dari jilbab yang saya kenakan. J

Karena ini pertama kalinya bagi saya menjalankan Ramadhan di Eropa, ucapan yang diberikan oleh kasir tadi sangat berkesan bagi saya. Perlu diakui, Islam di Jerman sudah tidak terdengar asing bagi masyarakat Jerman, terutama di Göttingen, kota tempat saya menempuh studi. Banyaknya kaum imigran muslim yang kebanyakan datang dari Turki telah membuat warga Jerman tidak merasa asing lagi dengan hadirnya agama Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. Saya rasa hadirnya Ramadhan tidak hanya diketahui oleh penganut Islam saja, tetapi juga kaum non-muslim di Jerman.

Mencari info seputar waktu berpuasa dan berbuka sangatlah tidak sulit.  Di Göttingen, kalendar waktu puasa, imsak, solat 5 waktu selalu diberikan oleh Islamische Gemeinschaft Al-Iman e.V., sebuah organisasi Islam setempat. Waktu puasa dalam bahasa Jerman adalah Fastenszeiten (Fasten = puasa, zeit = waktu) dan waktu solat adalah Gebetszeiten (Gebet = Shalat/Doa). Informasi ini dapat diperoleh dari Masjid Al-Iman yang terletak di dekat universitas. Karena kota Göttingen ini ada banyak sekali orang Indonesia yang sedang studi maupun bekerja, masyarakat muslim Indonesia berinisiatif membentuk komunitas muslim Indonesia bernama KALAM Göttingen. Komunitas ini bertujuan sebagai wadah untuk berbagi informasi dan diskusi seputar agama Islam dan aktivitas keagamaan.  Dalam hal waktu berpuasa dan shalat, KALAM Göttingen menggunakan referensi dari organisasi Islam setempat. Info komunitas ini dapat dilihat di http://www.kalam-goettingen.de/.

10464024_10204215705462313_6955823089485905669_n

Sumber foto : KALAM Goettingen

Puasa 19 Jam

Menjalankan puasa 19 jam ternyata cukup menantang lahir dan batin saya. Selama berpuasa, saya tetap terus menjalankan aktivitas saya seperti biasanya, mengikuti kuliah, praktik lapang, dan juga kerja part-time sebagai loper koran. Ruang kuliah saya berada di daerah bukit, dan saya selalu mengayuh sepeda bulak-balik di jalan menanjak dari asrama menuju ruang kuliah. Saya membayangkan bahwa saya harus menjalankan aktivitas tersebut seperti biasa, hanya saja saya tidak bisa minum air. Pada awalnya cukup mengangetkan memang, tiba di ruang kuliah terengah-engah karena mengayuh sepeda, ditambah lagi kerongkongan yang kering. Rasa dahaga muncul. Namun, Alhamdulilah saya bisa tetap fokus mengikuti perkuliahan.

Pengalaman lain yang tidak bisa saya lupakan adalah pada hari pertama saya berpuasa di Jerman, saya melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan pada saat itu langit masih menampakan silau matahari, waktu berbuka masih 4 jam lagi. Saya harus kuat, pikir saya. Karena badan cukup lelah dan tersengat matahari di siang harinya, jam 7 sore saya hanya bisa berbaring di atas kasur sambil menunggu waktu berbuka. Sambil berbaring, saya membayangkan betapa indahnya saat-saat berbuka puasa pada waktu magrib yang normal (tanpa perlu menyesuaikan dengan musim) di kampung halaman saya. Hehe.

Saat jam 9.45 tiba, saya langsung melepas dahaga dengan minum air dingin. Subhanallah, nikmatnya tidak terkira. Kenikmatan berbuka setelah berpuasa 19 jam lamanya itu luar biasa.

Saya akui, berpuasa selama 19 jam pada hari-hari pertama memang cukup berat. Kemudian, pepatah ‘bisa karena biasa’ mulai berlaku beberapa hari setelahnya. Ternyata berpuasa 19 jam itu hanya butuh penyesuaian awal saja, setelahnya akan menjadi terbiasa! Berpuasa 19 jam ternyata tidak membatasi diri dalam beraktivitas kok.

Segala pengalaman ber-Ramadhan di Eropa pasti membawa hikmah. Hikmah yang bisa dipetik adalah beribadah puasa saat musim panas tidak hanya menguji fisik saja, tetapi juga batin saya. Melafalkan zikir dan doa kepada Allah SWT bisa menjadi salah satu jalan agar diberikan kekuatan dalam beraktivitas selama berpuasa. Insha Allah, berpuasa selama 19 jam bisa terlaksana dengan khidmat.

Hikmah lain yang saya dapatkan adalah betapa bersyukurnya berpuasa di negeri sendiri. Setelah mengalami tantangan berpuasa 19 jam, saya menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di Indonesia masih belum ada apa-apanya. Saya merasa beruntung bisa mendapatkan pengalaman berpuasa lebih lama saat di Eropa, tentunya saya bisa lebih belajar untuk tidak mengeluh dan semakin mendekatkan diri dengan memperbanyak ibadah Sunnah. Hikmah terakhir yang saya peroleh adalah ternyata masakan Indonesia itu masih tidak ada duanya untuk dijadikan makanan berbuka!

Penulis : Annisa Hasanah, diterbitkan di Majalah Elfata Edisi 07 Vo.15 Tahun 2015 Hal.57-59.