Ramadhan ‘Musim Panas’ di Jerman : Buka Puasa dan Lebaran

Sekitar pukul 9 malam, saya mengayuh sepeda menuju Masjid Al-Iman, sebuah masjid kecil yang berada di sebuah jalan bernama Arndtstraße, kota Goettingen, Jerman. Langit pada pukul 9 malam masih belum sepenuhnya gelap gulita. Musim panas yang begitu terik dan kering di Eropa telah membuat waktu siang hari menjadi lebih panjang. Sehingga, waktu berpuasa pun ikut menyesuaikan. Berpuasa selama 19 jam dari jam 3 pagi hingga jam 10 malam memang cukup menguji fisik dan batin saya. Setelah beraktivitas di kampus seharian, rasanya kerongkongan ini ingin cepat-cepat melepas dahaga. Meskipun begitu, hal yang tak boleh dilupakan adalah mensyukuri nikmat Ramadhan yang Allah berikan, karena-Nya saya bisa mendapat kesempatan untuk merasakan bulan Ramadhan di Eropa.

Hari ini, Komunitas Muslim Indonesia di Goettingen atau KALAM akan menjadi host untuk berbuka puasa. Seluruh anggota KALAM dikerahkan untuk membantu terlaksananya acara berbuka puasa hari itu. Sebagai host, KALAM akan menyediakan sejumlah ta’jil dan makanan berat untuk para jamaah yang hadir di masjid tersebut. Setiap harinya di bulan Ramadhan, pengelola Masjid Al-Iman menyediakan makanan untuk sahur dan ta’jil untuk berbuka. Siapapun bisa mendapatkan makanan tersebut secara cuma-cuma. Namun pada beberapa hari tertentu, Masjid Al-Iman mengadakan acara berbuka bersama dengan acara makan besar. Makanan umumnya berasal dari sumbangan perorangan atau organisasi. Prosedurnya cukup sederhana. Pihak penyumbang cukup melaporkan bahwa dia akan menyumbangkan sejumlah makanan beserta tanggal rencana berbuka puasa, nantinya pihak Masjid akan mengecek tanggal yang tersedia untuk berbuka bersama. Saya cukup tertegun ketika mengetahui fakta ini. Di sebuah kota kecil benua biru ini, para muslim perantauan saling mengikatkan diri dalam sebuah ukhuwah dengan cara berbagi.

Sekitar satu bulan sebelum acara berbuka, anggota KALAM sudah berkoordinasi terkait dengan aneka menu, peralatan makan, penanggung jawab masing-masing menu, logistik, dan lain-lain. Sumber pendanaan dari kegiatan berbuka ini berasal dari kas KALAM dan juga sumbangan berbentuk uang maupun makanan jadi dari masing-masing anggota.

Setibanya di Masjid Al-Iman, saya mengambil wudhu terlebih dahulu. Saya dengar dari teman yang sering ikut berbuka disini. Jamaah akan membatalkan puasa terlebih dahulu dengan kurma, lalu Imam Masjid akan langsung menyeruka untuk beribadah shalat magrib. Sehingga, sebelum memasuki masjid, hendaknya mengambil air wudhu terlebih dahulu.

Memasuki ruangan Masjid, saya melihat sebagian anggota KALAM sudah sibuk wira-wiri menyiapkan makanan untuk berbuka. Mesjid Al-Iman ini memang tidak terlalu besar, tetapi pengunjungnya begitu banyak sekali. Seringkali banyak orang yang tidak dapat tempat, namun mereka tetap berdatangan. Saya begitu excited malam itu karena ini pertama kalinya buat saya berbuka puasa bersama dengan warga muslim kota Goettingen. Tidak hanya muslim Indonesia dan Turki saja yang hadir tetapi juga ada muslim Afrika, Pakistan, Bangladesh, dan bahkan Jerman. Ada beberapa orang Jerman di kota ini yang menjadi mualaf. Muslim yang hadir pada acara berbuka puasa ini tak mengenal usia, mulai dari anak-anak hingga lansia turut hadir.

Menu yang disiapkan oleh KALAM adalah menu asli Indonesia yaitu nasi kuning dilengkapi dengan ayam goreng dan tumisan bihun. Makanan disajikan dalam bentuk porsi, nasi dan lauk pauk sudah dibagikan ke dalam piring-piring plastik. Sedangkan untuk minuman, aneka soda dan jus sudah tersedia, berikut dengan gelas plastiknya.

Menyiapkan makanan berbuka

pak Nur Edy 2

Courtesy Photo : Nur Edy

Menjelang 5 menit sebelum berbuka, saya duduk bersama-sama dengan kawan dari Indonesia di tempat shalat Wanita. Karena banyaknya orang yang hadir, mau tidak mau kami harus duduk berdesakan supaya orang lain juga bisa ikut duduk di dalam. Kemudian, kurma-kurma diedarkan ke seluruh orang di dalam masjid agar tiap orang bisa membatalkan puasa lebih dahulu.

“Allahu akbar.. allahu akbar…”

Seruan azan pun mulai berkumandang.

Terdengar suara riuh dalam Masjid, “Alhamdulillahirabbilalamin…

Saya langsung memakan sebuah kurma manis dan meminum air putih segelas.

Subhanallah, sungguh besar nikmat-Mu ya Allah…

Tidak sampai satu menit setelah berbuka, Imam shalat menyerukan Iqamah, seluruh jamaah Masjid langsung berdiri membuat shaf dan menjalankan shalat Magrib.

Setelah shalat Magrib, barisan shaf pun berubah menjadi lingkaran-lingkaran kecil. Beberapa anggota KALAM membagikan piring-piring berisi makanan secara estafet. Saat makanan dibagikan, saya mendengar sayup-sayup orang-orang berbicara bahasa Jerman. Tidak hanya nasi saja, saya melihat semangkuk kecil sambal Indonesia dengan sendok kecil diedarkan. Wah ini dia! Makan nasi kuning tidak lengkap tanpa sambal! Hehe.

“Enstchuldigung, Scharf oder nicht?*” tanya seorang wanita berwajah Turki di samping saya menunjuk mangkuk sambal yang saya pegang. *Maaf, pedas atau tidak?

Hmmm, ja ein bisschen scharf.. “ jawab saya singkat sambil senyum. *Hmm, iya sedikit pedas

Wanita itu pun langsung mengoper sambal ke orang sebelah. Setahu saya, saus sambal Turki itu sama sekali tidak pedas, mungkin untuk orang Indonesia rasanya seperti saus tomat. Hehe.Urusan tingkat kepedasan, sambal Indonesia memang tidak ada duanya!

Malam itu, seluruh jamaah Masjid Al-Iman menyantap hidangan nasi kuning khas Indonesia dengan lahap dan penuh kegembiraan.

DSC_0566

Berbuka puasa bersama di Masjid Al-Iman

Berlebaran di kota Goettingen

Suasana berlebaran di kota Goettingen sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Pagi harinya diawali dengan shalat Ied berjamaah di Masjid, bersalam-salaman, dan diakhiri dengan ramah tamah.

Karena banyaknya orang Indonesia di kota Goettingen. Suasana berlebaran bisa dibilang mirip dengan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya ketupat, opor ayam, sayur gulai yang menjadi menu santapan utama saat Idul Fitri.

Di Goettingen, salat Ied diselenggarakan di masjid At-Taqwa, masjid ini terletak di dekat Hauptbahnhof (stasiun kereta). Ukuran Masjid At-Taqwa jauh lebih besar dari Masjid Al-Iman sehingga cukup untuk menampung banyak jamaah shalat Ied.

Setelah shalat Ied selesai, acara dilanjutkan dengan penyampaian khutbah. Khutbah diberikan dalam bahasa Jerman. Sebagian orang Indonesia masih belum mampu berbahasa Jerman dengan fasih. Meskipun begitu, mereka tetap ikut mendengarkan khutbah.

Silaturahmi dan Open House

Silaturahmi telah menjadi bagian yang terpisahkan dalam ritual Idul Fitri, meski di Jerman sekalipun. Umumnya warga Indonesia saling berkunjung ke rumah-rumah warga Indonesia yang sudah lama tinggal di Goettingen. Biasanya warga Indonesia berkumpul disana sambil menyantap hidangan khas Lebaran. Beberapa keluarga Indonesia juga mengadakan acara Open House, sehingga mereka bisa datang kapan pun untuk sekedar bersalam-salaman, berdiskusi, dan menyantap makanan yang disediakan tuan rumah.

Bersalam-salaman

554049_10202144153389408_1987851130_n

Courtesy Photo : Genita Cansrina

Mengingat semua orang Indonesia di Goettingen adalah para perantauan. Mereka begitu menghargai makna bersilaturahmi. Betapa mereka menyadari bahwa mereka adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan pertolongan. Makna silaturahmi dalam momen Idul Fitri ini begitu terasa dalam hati mereka untuk terus mempererat Ukhuwah Islamiyah, dimanapun dan kapanpun.

(Diterbitkan di Majalah Elfata Edisi Bulan Agustus 2015.)

Ingin tau cerita seru saya yang di Jerman? Baca aja di buku ‘Student Traveler’ ya!

Dapatkan di toko buku terdekat!