Eat PLAY Love (Chapter 1 : The Departure)

Inspired from Eat Pray Love…

Setelah menonton Film Eat Pray Love yang dibintangi oleh aktris kondang, Mbak Julia Roberts, gue langsung tersihir untuk ingin banget kembali ke Bali, The Island of God.

Di film itu, gue melihat betapa galaunya mbak Julia dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja, hingga dia akhirnya memutuskan untuk melakukan solo trip dari Italia, India, sampai Indonesia (Bali).

I’ve been there once, but I think I should come back to Bali for a leisure, not for academic duty or something that related to work. I want to find a peaceful mind in Bali, just like the foreigners.. 🙂

Tahun 2010, gue pernah ke Bali, tepatnya di Denpasar. Tapi karena dalam rangka pertemuan ilmiah, I didn’t get much leisure on my trip, I got many experiences from the program that I attended, but I didn’t get experiences on how to enjoy the beautiful of Bali.

Gue ingin ngerasain bagaimana rasanya menyusuri indahnya sawah teras di Ubud, ngeliat mahakarya lukisan Antonio Blanco (I’m his fan!), ngebaring di pinggir pantai Kuta-Legian, makan ayam betutu dengan kalap, hangout ala bule-bule di Legian Street, sampai ngerasain Balinese massage. That’s all I want to do in Bali. I promise to my self if I have a chance to go there, I will do all of it. 🙂

A thousand miles begins with a single step. So, I start with searching for  a ticket to Bali.

To be honest, trip kali ini tergolong kecelakaan alias tidak direncanakan. Suatu pagi di bulan Juli 2011, gue iseng buka web AirAsia. Ternyata, AirAsia sedang promo besar-besaran! Entah gue diberi jalan atau begimana, gue iseng searching tiket PP ke Bali, and did you know? Gue beli tiket PP Jakarta-Bali untuk keberangkatan bulan Maret 2012 dengan harga 60 ribu rupiah saja! Murah banget bukan?

Untuk trip Bali ini, gue engga sendiri, as usual, gue membawa 3 sahabat backpackper gue ( Nisty, Denda, Tahmid), so, Bali trip will be the 2nd trip after Singapore. 

Tiket murah pasti ada resikonya. Awalnya kita booking tiket super murah ini untuk perjalanan 8 hari, dari tanggal 19 – 27 Maret 2012 dan kita sendiri ga tau saat kita beli bulan Juli 2011, akan ada apa nantinya tahun depan saat keberangkatan. Karena murah, kita book aja, toh angus pun ga rugi-rugi amat. hehe.  And it’s true, gue dan Tahmid kebentur waktu kerja, Nisty dan Denda kebentur sidang skripsi. Kita berempat agak bimbang, karena kita ingin ke Bali, namun saat itu uang sedang pas-pasan dan ga bisa trip kelamaan. Akhirnya setelah berembug bareng, kita sepakat angusin tiket berangkat dan beli tiket berangkat yang baru seharga 500.000. so, total biaya tiket pesawat kali ini adalah Rp 560.000. 🙂

Setelah sepakat dengan keberangkatan, kita pun nyusun agenda trip kita selama disana. Setelah gue bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin gue realisasikan di Bali ke temen-temen gue, kita pun sepakat kalo tema trip backpacker anak-anak ciawi kere adalah Eat PLAY Love! Gue modif dikit dari judul aslinya karena gue punya misi kecil yaitu mau ajak main anak-anak Bali dengan permainan yang gue ciptakan, Ecofunopoly. Hehe. Let’s Eat Play Love!

Rute yang telah kita tetapkan selama di Bali adalah :

Ngurah Rai – Ubud – Legian – Kuta – Ngurah Rai.

Kita engga ambil terlalu banyak rute, karena kita ingin menikmati lebih lama dengan Ubud dan Kuta. 🙂 Perjalanan tiga hari, kita bagi dengan hari pertama dan kedua di ubud, dan hari kedua (siangnya) dan ketiga di kuta!

Sebenernya alasan lainnya itu karena keterbatasan dana juga, heheheh..

The day has come.

Jam 6 pagi buta kita terbang dari Soetta Airport menuju Ngurah Rai Airport dengan Lion Air. Cukup berat memang melawan rasa kantuk karena harus ke bandara pagi-pagi buta. Lalu, Setelah mengudara selama 1.40 menit (perut keruyukan pula), kita pun sampai di Bali Pulau Dewata.. Yeay!

Tujuan pertama setiba di Bali adalah Ubud. Gue dan ketiga kawan gue tahu Ubud, tapi kita tidak tau Ubud itu dimana dan bagaimana caranya kesana. hehe.

1 hari sebelum berangkat, gue sempat searching informasi untuk transportasi lokal di Bali.

Unfortunately, Bali masih belum punya sistem transportasi terpadu, sehingga kebanyakan orang menggunakan mobil rental atau sewa bus (kalau dalam jumlah besar). Kalau bule-bule yang backpacking, mungkin mereka jalan kaki kali ya.

Satu hal yang amat disayangkan nih dari Pulau Dewata, transportasi umum.

Alhasil, gue kesulitan cari transportasi umum dari Ngurah Rai ke Ubud. Setelah nanya ke temen gue yang asli orang Bali. Dia menyarankan ke gue untuk naik taksi ke Kuta, trus naik bus Sarbagita, bus macam Trans Jakarta gitu (asli baru tau loh gue kalo Bali punya bus macam Trans Jakarta, hehe) . habis naik bus, carilah omprengan yang rutenya ke Ubud. 🙂 Untuk sementara gue ikutilah apa kata teman gue itu.

Dengan berbekal peta Ubud dan peta rute Bus Sarbagita yang gue masukkkan ke iPod, gue mulailah perjalanan menuju Ubud. Gue cek rute, halte bus Sarbagita terdekat dari Bandara Ngurah Rai adalah Central Parkir Kuta.

Tidak sulit mencari taksi atau kendaraan sewaan yang bisa bawa kita ke pusat Kuta. Pas sampai di parkiran bandara, ada banyak bapak-bapak yang nawarin jasa mobil sewaan. Teman gue bilang katanya kalau biaya naik taksi bayarnya sekitar 30ribu-60ribu. Tanpa berlama-lama disana, kita pun deal pake mobil sewa seharga 50ribu per mobil.

Kita naik Avanza Hitam bersama mas-mas driver yang belum sempat gue ketahui namanya, intinya dia baik. Dia ramah dan suka ngajak ngobrol. Gue sempat tanya2 soal bagaimana makanan halal disini, dan dimana aja tempat yang oke selama di Bali.

“Orang Bali itu jarang ada yang ‘masak’, kalau ada yang ‘masak’ itu pasti orang Jawa..” kata mas drivernya.

Arti masak ini adalah masak untuk orang lain selain keluarga alias jualan. Menurut dia, orang Bali jarang yang jualan makanan, dan biasanya orang Jawa. hoo.

Tapi katanya sih, banyak kok makanan halal, and yes I believe it, wong kita masih di Indonesia kok, kenapa harus takut ga bisa makan. hehe.

Cuma sekitar 15 menitan buat ke Central Parkir Kuta.

Central Parkir Kuta ini adalah ruang terbuka yang luas, dijadiin sebagai terminal penghubung buat yang mau ke kuta naik omprengan (setau gue kita ga bisa bawa mobil pribadi ke kuta, so harus naik omprengan). Halte bus Sarbagita tepat berada di depan gerbang Central Parkir Kuta.

Kita tunggulah bus itu..

Buset, udah 30 menit nunggu, busnya kaga dateng-dateng. Perut gue mulai keruyukan, T_T

kebetulan gue dibawain bekal nasi ama nyokap buat sarapan, tapi karena tadi ga keburu makan di Bandara, akhirnya makan kita tertunda. 🙁

Dengan sabar menunggu bus datang, eh muncullah bus besar, yang lebih besar dari Trans Jakarta! Hore!

Kita pun naik, dan alhamdulilah dapat tempat duduk. 🙂 Cukup bayar Rp 3500 aja, gue dkk sudah diantar ke Batu Bulan yang ternyata jauuuh banget. Gue aja ampe molor di bus (ACnya manteb banget), pas bangun, eh masih belum nyampe, ternyata perjalanan dari Central Kuta ke Batubulan itu sekitar 1 jam lebih.

Terminal Batubulan

Sesampainya di Batubulan, kita turun di terminal Batubulan yang engga terlalu rame. Tepat turun dari bus, didepan mata kita udah ada kol mini yang udah siap berangkat.

“Ke ubud ya pak?” tanya gue.

“Iya ya, ubud ini mbak!” jawab si kenek.

Kita pun naik Kol Mini itu. Kol mininya beda-beda tipis ama kol mini rute Bogor – Cianjur. cuma Kol Mini Batulan-Ubud ini agak kurang kerawat. hehe.

Dan ternyata, Batubulan ke Ubud itu lebih jauh lagi dari Kuta ke Batubulan, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit lebih dikit. Kita sempet ngelewati Pasar Sukowati (I’ve been there!), dan terus menyusuri Bali bagian utara.

Finally, I saw you.. Ubud..

Karakter Ubuda terlihat beda sama daerah sekitarnya, sudah jadi daerah wisata banget. papan hotel, jasa spa, jasa sewa motor, jasa tour, dan lain-lain. Pokonya ruame deh.

Kita ga turun di terminal Ubud, tapi di salah satu penginpan yang ada di Ubud. Selama di mobil, gue dan temen-temen agak ragu berapa biaya naik kol ini. Gue estimasi sih sekitar 10-15 ribu. pas gue tanya,

“100 ribu .,.” jawab pak supir. Hah?? mahal bener?? (atau emang segitu harganya)

gue agak shock aja, karena gue naik Sarbagita cukup bayar 3500 aja, nah ini 25ribu per orang?

Setelah nego2 minta murah, dan ga bisa-bisa, akhirnya gue dan teman-teman pun mengikhlaskan buat bayar segitu. which means gue harus motong anggaran lain karena harus bayar mahal di transport ini. Gue bener-bener bawa budget pas-pasan buat trip kali ini. So, semua harus diperhitungkan dengan seksama, supaya hari terakhir masih bisa makan. :'(

Well, just forget it. Yang jelas sih, I’m arrived in Ubud! Yeay!

#To Be continued# Go to next Chapter > Chapter 2 : Antonio Blanco & Monkey Forest

Sumber foto : berbagai sumber website hasil pencarian dari mbah Google. ;p

INFO BUDGET  HARI 1 (Rupiah) :

Bus Damri Bogor -Bandara : 35.000

Pajak Airport : 40.000

Tiket Batavia Air Economy Class JKT-DPS : Rp 502.000

Rental Mobil : 12.500

Bus Sarbagita : 3.500

Kol Mini : 25.000

TOTAL (HARI 1+ tiket) : Rp 617.000