Sejak bulan Maret lalu, saya memutuskan untuk bekerja sebagai part-time staff di Fakultas Pertanian, IPB.
Pekerjaannya ga berat-berat banget sih, karena masih sekedar part-time. 🙂 Meski saya belum mengaplikasikan keilmuan saya di pekerjaan, saya punya banyak cerita yang sangat menginspirasi saya sebagai seorang Sarjana Pertanian.
Bekerja di Fakultas, saya harus bekerja dengan orang-orang yang lebih tua dari saya, mungkin hanya saya yang masih muda. 🙂 Beberapa minggu terakhir, saya dapat kesempatan menjadi tim penyusun sejarah pendidikan pertanian di Indonesia bersama para dosen dan sesepuh yang menjadi saksi sejarah. Saya dapat tugas untuk mencari arsip-arsip bersejarah dari Badan Arsip Nasional serta menyusun booklet sejarah pendidikan pertanian untuk dibagikan di acara peringatan 60 tahun pendidikan pertanian yang akan diadakan jumat besok (27/04/2012). Tujuan dibuatnya catatan sejarah pendidikan pertanian ini adalah untuk memberikan inspirasi bagaimana nenek moyang kita memperjuangkan keilmuan pertanian di Indonesia sekaligus memberi semangat dalam membangun pertanian di Indonesia. 🙂
Tim Penyusun Sejarah Pendidikan Pertanian ada 7 orang, yaitu Pak Ernan Rustiadi (Dekan Fakultas Pertanian), Bu Syarifah Iis Aisyah (Sekretaris Fakultas), Pak Prof. Somadirkarta (Prof. Emeritus Universitas Indonesia), Bu Prof. Syarida Manuwoto (Mantan Dekan Faperta dan Emeritus IPB), Mbak Emma (Dosen muda ITSL), dan saya sendiri, Annisa, sarjana pertanian yang fresh baru aja lulus. Hehe.
Selama saya ikut dalam tim ini, saya cukup ter-nganga kalau ternyataproses berdirinya pendidikan pertanian itu panjaaangg sekali, dan melalui banyak proses yang engga gampang buat dilalui. Kalau sekarang ini orang-orang banyak berjuang melawan birokrasi Indonesia yang konon katanya terkesan berbelit-belit, kalau jaman dahulu, para intelektual dan akademisi memperjuangkan pendidikan pertanian perlu menghadapi para penjajah (Belanda dan Jepang). Wuiii..
Bapak Soma, Profesor Emeritus dari UI, menjadi andil dalam informasi sejarah pendidikan pertanian ini. Saat ini, umur beliau sudah 82 tahun, tapi semangat bekerjanya seperti orang yang masih berumur 20 tahun. Saya salut melihat sosok Pak Soma yang dengan semangatnya menceritakan kisah sejarah pertanian di Indonesia setiap kali pertemuan. Secara antusias, beliau terus memaparkan bagaimana pendidikan pertanian saat pemerintahan Belanda, lalu masa pemerintahan jepang, sampai lepas dari penjajahan, dan resmi sebagai pendidikan pertanian di Indonesia. Beliau pun rela mengkaji literatur untuk membuktikan bahwa apa yang beliau tulis itu adalah benar. Beliau tidak mau membuat tulisan mereka-reka atau menduga-duga, sehingga perlu dicarikan literaturnya.
Saya sebagai personel termuda dalam tim merasa malu setelah melihat sosok Pak Soma yang semangat ini. Saya sendiri yang berumur twenties masih suka terjebak dalam dunia malas. Malas bekerja, malas belajar, dan malas lain-lainnya. Setiap kali melihat sosok pak Soma, saya langsung bercermin pada diri saya sendiri., dan saya selalu ingat bahwa di umur saya yang seperti ini, harusnya saya yang bekerja keras, karena memang inilah saatnya. Steve Jobs pun bilang begitu., umur 20an adalah umur bekerja keras. Ya, saya harus bekerja keras. Untuk apa? untuk memenuhi visi hidup dan cita-cita saya tentunya. 🙂
Suatu hari, saya pernah mengantar pak Soma pulang ke rumahnya dari kampus Darmaga naik mobil fakultas. Waktu itu, saya sudah bertemu beliau beberapa kali saat rapat penyampian sejarah, tapi’ saya snediri belum pernah ngobrol-ngobrol secara santai dengan beliau, istilahnya sih saya masih isin. Karena yang ngantar pak Soma hanya saya, so saya manfaatkan buat ngobrol-ngobrol dengan beliau di mobil. Saya mulai dari topik riwayat pendidikan beliau.
Saya : “Pak Soma, dulu bapak mengambil master dan doktor dimana ya pak?”
Pak Soma : “Saya tidak mengambil master, saya langsung sekolah doktor, kalau dulu masih boleh tanpa master, saya mengambil doktor di University Freie Berlin, Jerman..”
Saya : ” Hooo…”. Suara Pak Soma masih lantang dan tegas kalau sedang berbicara.
Saya : “Wah saya ingin sekali Pak melanjutkan s2 di luar negeri.. ”
Pak Soma : “Oh ya? kamu sekolah saja di Jerman saja.. itu kamu ambil studi di universitinya ibu Iis, apa itu namanya..”
Saya : “Oh goettingen ya pak?”
Pak Soma : “Nah ya itu.. kamu coba saja..kamu harus sekolah”
Saya : “oh iya pak, program bu Iis itu namanya DAAD, sayangnya pak salah satu syaratnya itu minimal pengalaman kerja 2 tahun pak, saya belum memenuhi syarat karena belum bekerja selama itu.. hehe”
Pak Soma : “Oh begitu? sekarang ada syarat baru ya? saya tidak tahu..”
Saya dan Pak Soma pun sampai di depan mobil, dan Pak Soma duduk di depan samping driver seat, saya duduk di seat belakang.
Obrolan santai pun dilanjutkan di dalam mobil.
Pak Soma : “Annisa, Kamu umur berapa sekarang?”
saya : “23 tahun pak..”
pak Soma : “tahun berapa kamu lahir?”
Saya : ” hehehe.. 1989 pak.. ”
Pak Soma : “saya meraih gelar doktor saya tahun 1959 di Jerman, tahun segitu kamu belum ada apa-apanya ya? hehe”
Saya : “hehe, iya pak, tahun 1959 ayah saya aja baru lahir pak, 30 tahun kemudian saya baru lahir, hehe..”
Pak Soma ikut ketawa. Kocak aja ngobrol soal ginian. hehe.
Saya : ” Bapak dulu waktu ke Jerman naik apa pak?” iseng banget pertanyaan saya.
Saya penasaran aja, tahun 1950an gimana caranya melintasi benua, apakah udah ada Garuda Airlines atau Lufthansa Airlines dari Jakarta ke Jerman? hehe. ga yakin saya.
Pak Soma : “saya naik pesawat..” oh pesawat?
Saya : ” oh sudah ada pesawat ya pak?”
Pak Soma : ” sudah, tapi saya naik pesawatnya dari bandara Halim.. ”
Saya : ” oh Halim, sekarang sudah jadi bandara khusus Haji pak, hehe.. naik pesawat apa ya pak?”
Pak Soma : “saya naik Air France.. pesawat Prancis..” wow, Air France ternyata udah ada dari tahun 1950an.
Saya : ” hooo,, transit dimana aja pak?” saya sadar kok pertanyaan saya agak sedikit merepotkan utk orang tua, tapi untungnya pak Soma tetep jawab, hehe.
Pak Soma : “oh naik pesawat jaman dahulu tidak seperti sekarang.. perjalanan dari Indonesia ke Jerman makan waktu dua hari lebih.. karena transitnya kemana-mana, ke Bangkok dulu, ke Afrika dulu, ke… dulu..”
Wow 2 hari? edan, capek di jalan banget itu. hahaha.
Saya pun cerita kalau saya juga sempat berkunjung ke Jerman tahun 2010 silam, dan saya menceritakan kalau saya naik pesawat 13 jam aja udah cuapek banget.
Pak Soma : ” oh kamu pernah kesana ya? naik apa?”
Saya : “naik Lufthansa pak.. alhamdulilah pesawatnya enak, hehe”
Pak Soma : “oh yaya… berapa lama kamu kesana?”
Saya : ” hanya seminggu pak, pengen sih bisa balik lagi kesana.. hehe”
Akhirnya Pak Soma nanya balik ke saya tentang trip saya disana, saya ceritakan tentang Cologne dan Leverkusen.
Saya juga bercerita soal musim gugur yang cantik disana.. Beliau pun setuju dengan cantiknya musim gugur disana.
Obrolan pun beralih ke jenjang yang lebih serius,
Saya : ” Boleh tau, bapak Professor di keilmuan Biologi bidang apa ya pak?”
Pak Soma : ” Burung, saya menekuni taksonomi Burung..”
Wow~ langsung keinget ama skripsi saya,
Saya : ” wah skripsi saya tentang burung loh pak, tapi lebih ke habitatnya..” saya excited banget.
Saya : ” Bapak tahu Oriental Honey Buzzards? saya meneliti tentang habitat burung itu..”
pak Soma : “oh tau saya..”
duh saya sotoy banget nanyanya, ya jelas tahulah.. >.<
Akhirnya saya ceritakan sedikit soal hasil riset saya itu, 🙂
Beliau pun memberi pesan yang akan saya inget terus, ” selagi ada kesempatan, kamu harus terus sekolah!”
Siap pak!
Obrolan pun berakhir karena saya harus turun dari mobil buat ke IPB Press.
Sesampainya di rumah, saya coba buat googling tentang Pak Soma, and wow~
He’s very amazing person.. I read some articles about him, and I’m so speechless..
beliau adalah salah satu penerima Habibie Awards, dan beliau telah banyak menerima penghargaan nasional dan internasional. It’s very lucky for me having a chance to talk with him, even it’s only for a short time. 🙂
(silahkan baca artikel ttg beliau disini atau disini )
Selain Pak Soma, ada pula bu Syafrida Manuwoto, beliau adalah satu-satunya dekan perempuan di Fakultas Pertanian yang pernah terpilih. Beliau adalah inisiator dari rangkaian acara pendidikan pertanian ini. Saya sangat inspired banget melihat sosok bu Syaf, karena beliau adalah wanita, sama seperti saya, tapi pencapaiannya melebihi apa yang dibayangkan oleh wanita pada umumnya. 🙂
Kedua sosok ini merupakan panutan baru buat saya karena mereka telah mengubah sudut pandang saya terhadap Sesepuh (Elder). Saya sering berasumsi bahwa sesepuh hanya bisa di rumah, dirawat ama anak cucu, dan banyak ibadah. Tapi, ternyata menjadi sesepuh bukan berarti tinggal diam di rumah aja, Pak Soma dan Bu Syaf bisa membuktikan bahwa mereka bisa tetap berkontribusi di luar rumah. 🙂 Insya Allah, jika saya berumur panjang, (amin), saya ingin sekali mengikuti jejak beliau, berkontribusi tanpa kenal umur. 🙂
Last but not least,
Selamat Hari Pendidikan Nasional Kawan-kawan, (maaf telat beberapa hari)
Yuk, Terus Semangat Mencari Ilmu, seperti sesepuh kita dulu! 😀